twitter


Palembang, 8 September 2011
My Room, 20.00

Hey, kali ini aku mau cerita tentang seorang teman. Boleh? Ah, aku rasa dia pun tak akan keberatan jika aku membuat kisahnya di sini. Bukan bermaksud buruk, hanya ingin memetik hikmah yang ada. Tapi, sepertinya aku perlu menyamarkan tokohnya. Kayak di film-film gitu kesannya. Oke, sebut saja namanya Dewi dan Rudy.
Begini, Dewi adalah teman pertamaku saat aku baru pindah di tempatku yang sekarang, dia mengajakku berteman dengan baik, usia kami hanya beda lima bulan. Dia hanya seorang gadis tamatan SD, karena orang tuanya tak mampu membiayai sekolahnya. Dia cantik, kulitnya kuning langsat, rambutnya lurus panjang tergerai. Sangat menarik. Hanya saja, dia tak dapat merawat diri. Mengapa saya bilang begini? Bayangkan saja, rambutnya yang lurus panjang, selalu diikatnya seadanya, giginya yang tersusun rapi dibiarkannya menguning, belum lagi wajahnya yang dipolesinya bedak sesukanya. Dan yang lebih parah, penampilannya yang suka asal saja memakai baju. Dia tidak mudah bersosialisasi. Aku sering mengajarkannya bagaimana caranya berpakaian dan merawat diri (meskipun aku sendiri suka cuek), mengajarkan dia untuk lebih dewasa. Namun, usahaku sama sekali tidak ada hasil, satu hal yang tidak aku suka darinya, dia suka berbohong (kata orang palembang, besak kelakar). Tapi,
meskipun begitu, dia seorang yang perhatian, penyayang, dan sangat baik.
Singkat kata, dia pindah saat aku SMA. Kapan tepatnya aku lupa, mungkin sekitar tahun2008. Setelah kepindahannya dia sering menghubungiku, ingin menemuiku. Tapi, aku tak pernah bisa mengobrol terlalu lama dengannya, aku sibuk. Sibuk dengan urusanku sendiri.
“Kha, aku nak nikah. Datang ke rumah aku yo.” Itu yang ia katakan di telpon bulan Juni 2011 lalu. Aku hanya mengiyakan saja. Aku tak percaya dia akan menikah. Dia pasti tengah bercanda, agar aku main ke rumahnya. Aku sama sekali tidak menghiraukannya.
“Kha, minggu depan aku mau dilamar. Kau jangan dak dateng, yo.”
Awalnya, aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Aku baru percaya ketika orang tuanya langsung yang mengatakan Dewi akan menikah. Dia dijodohkan? Tidak! Dia MBA2! Tidak. Dia menikah dengan seorang lelaki pilihannya, namanya Rudy dan tak ada paksaan sama sekali. Wowww. Aku hampir tak mempercayai ini.
Tapi, inilah faktanya, Dewi benar-benar akan menikah. Lamaran telah terjadi. Tanggal pernikahan telah ditentukan. Singkat kata, 17 Juli mereka menikah. Cukup meriah, meskipun hanya ala kadarnya.
Setelah menikah, Dewi masih sering menghubungiku, namun dengan frekuensi yang lebih jarang. Awalnya dia tak pernah cerita tentang rumah tangganya, tapi kemarin dia menceritakan semuanya. Sejak awal menikah, hingga detik ini, dia mengaku dia tidak bahagia. Pertama, karena dia tak dinafkahi lahir dan batin, kedua sikap suaminya berbeda dengan sikapnya semasa pacaran. Dia menangis.
Entah apa yang harus aku katakan padanya untuk menghiburnya. Tapi, aku tak sepenuhnya menyalahkan Rudy, karena pada dasarnya Dewi juga salah. Menurut pengakuan Rudy, Dewi tidak bisa beradaptasi dengan keluarganya, Dewi juga suka cuek dengan penampilan, itu yang membuat Rudy tak betah ada di rumah.
Satu hikmah yang bisa saya petik, jangan gegabah, dikendalikan oleh nafsu sesaat, pikirkan mana baik dan buruknya sebelum menikah. Karena menikah bukan hanya menyatukan kamu dan dia, tapi juga 2 keluarga besar.
Satu pelajaran lagi, nanti kalo nikah, harus tetap tampil cantik untuk suami, manjain dia, sopan dengannya dan kamar adalah ruang pribadi yang nggak boleh ada yang masuk selain aku dan suami, biar suami betah ada di rumah. *mikirin nikah.

1 Coment:

  1. Oke Dekha... Jadi kpn ni nikah'a? :D

Posting Komentar