twitter


Depok, Medio :  Selasa  , 20 September 2011
Terima Kasih Kakek Pardi …
            Menjelang jam istirahat kantor  terdengar suara Michael Jakson dari HP-ku pertanda ada panggilan telepon masuk. Aku lihat ternyata dari Pak Thohirin, saudara sepupu bapakku memberitahukan bahwa ada saudara yang meninggal dunia. Namanya adalah Sutjipto, anggota DPR , bertempat tinggal di Pondok Indah. Gubrak … jujur aku tidak familiar dengan nama ini. Bapak memang pernah cerita kalau mempunyai saudara yang sukses merantau di Jakarta. Beliau pernah menjabat sebagi Ketua Notariat Seluruh Indonesia dan sekarang menjadi anggota DPR dari Partai Demokrat. Tapi semuanya itu kutanggapi bagai angin lalu, keluar telinga kanan keluar telinga kiri. Maklum, mengetahui beliau tinggal di Pondok Indah saja sudah membuatku minder, apalagi main kerumahnya. Tak terbayang sama sekali, bagai mimpi disiang bolong….
            Tak lama kemudian Bapakku yang sedang bertugas di Surabaya meneleponku dan menyuruhku untuk segera berangkat melayat. Apa mau dikata, aku harus berangkat. Setelah ijin sama bos, akhirnya aku meluncur ke jalan untuk mencari angkutan. Karena masih bingung, aku bertanya kepada tukang ojek yang sedang mangkal. Tukang ojek ini akhirnya menawariku untuk mengantarkan. Setelah terjadi kesepakatan harga akhirnya berangkatlah kita berdua, walaupun dalam hati masih ada sedikit keraguan. Selama sepuluh tahun di Jakarta tak pernah sekalipun aku main ke daerah elite tersebut. Ya sudahlah kita lihat saja nanti. Lets go man….
            Sial bagi kami ketika sampai daerah Simprug, hujan turun. Terpaksa aku dan Kakek Pardi, nama tukang ojek tersebut berteduh di bawah pohon. Kami menunggu sampai setengah jam, hujan tak jua reda malah semakin deras mengguyur. Pakaian kami basah semua. Terbersit pikiran untuk mengurungkan niat dan balik kekantor. Entah mengapa ada bisikan lain yang memberikan kekuatan untuk meneruskan langkahku.
            Akhirnya hujan mulai mereda, dan kami bersiap untuk meluncur kembali. Sebelumnya aku minta  Kakek Pardi untuk mampir ke warung dulu untuk makan siang. Aku tidak mau kami berdua masuk angin karena tubuh basah dan perut kosong. Alhamdulillah, tidak jauh dari tempat  berteduh, kami menjumpai warung soto. Aku memesan dua porsi ditambah teh hangat.Sambil makan aku mencoba  membuka pembicaraan. Ternyata  Kakek Pardi orangnya enak untuk diajak ngobrol. Dari sekedar obrolan daerah asal usulnya sampai masalah politik. Semuanya nyambung, habis dibabatnya.  
            Kakek Pardi berasal dari daerah Gombong, Jawa Tengah. Hampir 40 tahun beliau merantau ke Jakarta dan sekarang tinggal di daerah Kemayoran. Umurnya sekarang sudah 71 tahun, tapi masih sanggup mengojek untuk mencari nafkah buat keluarganya. Tubuhnya masih tegap, hanya rambut gondrongnya penuh uban. Sekilas tampangnya mirip Yok Kuswoyo, personel Koes Plus. Band yang sangat melegenda di negeri ini. Ternyata Kakek Pardi adalah seniman juga. Dia adalah anggota grup karawitan, dengan bonang sebagai spesialisasinya.   
Setelah perut kenyang dan baju sudah mulai kering pencarian kami lanjutkan. Akhirnya sampailah kami ke Pondok Indah Mall, tempat yang kabarnya sering dijadikan para sosialita ibukota untuk mejeng. Ternyata alamat yang kami cari tidak jauh dari mall tersebut. Yang membuat aku ragu adalah perumahan elite tersebut dijaga oleh satpam secara berlapis. Tapi setelah aku jelaskan maksud kedatangan kami dengan senang hati mereka menunjukkan alamat tersebut.
            Keraguan semakin menjadi ketika aku sampai digerbang rumah. Rumah ini begitu bagus dan megah dengan puluhan satpam siaga penuh. Maklumlah yang meninggal adalah pejabat negara, dan para pelayatnya pasti orang kelas VIP pula. Sedangkan aku ini siapa ? No body knows ? Peduli amat, mereka manusia aku juga manusia apa yang mesti kutakutkan ? Toh aku bertujuan baik, mewakili keluarga untuk meyampaikan belasungkawa.  
            Alhamdulilah ternyata ada salah satu kerabat dari kampung yang sudah lebih dahulu datang mengenali diriku. Narto namanya, dan dia adalah teman masa kecilku ketika aku masih tinggal didesa Janggan. Desa terpencil di daerah Magetan, Jawa Timur, tempat dahulu bapak mengajar dan nenekku tinggal. Setelah berbincang cukup lama akhirnya aku berpamitan untuk pulang.
Dengan langkah ringan aku ketempat kakek Pardi yang sudah lama menunggu untuk mengantarku kembali ke kantor. Untung ada tukang ojek yang baik hati ini, kalau nggak apalah jadinya ? Seperti Tarzan masuk kota, pastilah aku kesasar tak tentu arah.
 Dalam hati aku mengagumi kegigihan dan keuletannya dalam mengarungi kehidupan ini. Ditengah keras dan ganasnya persaingan metropolitan,.beliau masih mempunyai prinsip yang kuat dalam mencari nafkah yang halal dengan menjadi tukang ojek. Harusnya para aparatur negeri yang suka korupsi malu dengan kakek perkasa ini. Mereka hanya mementingkan isi perut dan kenikmatan duniawi semata. Sekali lagi empat jempol untuk Kakek Pardi. Pokoknya TOP banget …   Terima kasih Kakek Pardi, You are the best from the best …     

******

0 Coment:

Posting Komentar