Labirin Hati
*Chyput
Sepercik rindu yang t'lah lalu
Sematkan hati yang layu
Sesampai dia di terik nan haru
Semangatku hidup menjemput tersedu
Labirin hati yang kian terpatri
Laksana hati yang kian mengisi
Lafadzkan cinta yang tiada henti
Luntahan jiwa melalap meniti
Cinta, apakah ini yang tengah kurasa?
Cemarkan fikir, risaukan asa?
Cacian kalbu kian terasa
Ceraikan hati yang jadi nelangsa
Takut aku pada cinta
Tak hanya menanti yang kian menjemukan
Telaah kata yang sering terucap
Tanduskan hasrat yang lama terpendam
Jikalau kamu labirin hati
Janganlah engkau mengikis risi
Jejak langkahmu kian ku ikuti
Jemari manis masih megitari
============================
Semarak rasa hati tak keruan melabrak. Entahlah, kenangan tentang dirinya masih terbayang. Meski hati terlalu sayang, namun aku tak boleh egois. Dia, si pengagum cintaku. Dia, yang selalu mencintaku. Apa yang kuingin selalu dia penuhi, namun pasti kutolaknya ia.
Aku tak mau munafik. Hal itu semuanya memang yang kubutuh. Tapi bukan dengan cara dibelikan. Aku ingin memiliki dengan usahaku. Misalkan dari honor serabutanku. Atau mungkin ada mukzizat kemenangan meski itu hal yang kecil sekalipun. Nominal sekecil apapun, namun jika hasil sendiri, rasanya sangat bangga. Terlebih lagi bagi aku yang berlatar serba ada waktu kecilnya.
Cobaan hidup dengan perceraian orang tua yang bertubi tubi... kehilangan mama yang selama ini membesarkanku. ditinggal oleh orang2 paling berarti dalam hidupku. dicoba pula dengan kekalahan bertubi-tubi dalam berbagai ajang kepenulisan yang kuikuti... Yah, meski pada akhirnya, kulampiaskan juga kekesalanku yang sebenarnya adalah rasa kecewa yang teramat sangat, tapi kelak mereka akan mengerti, mengapa aku sampai begitu terpukulnya menanggung itu semua. Ketika mereka lah yang berada di posisiku, entah hal buruk apa yang mungkin jauh lebih dahsyat mereka lakukan sebagai pelampiasan.
Mungkin memang banyak, penulis yang juga pemenang yang justru terpacu semakin dalam untuk lebih giat lagi dalam berjuang. Sayang, aku belum pada tahapan itu. Tuhan selalu memanjaknku dengan gelimangan prestasi selama aku sekolah 15 tahun.. Aku tak pernah sedikitpun dituntut oleh keluarga untuk menjadi yang paling unggul atau istilah halusnya "dominan". Tapi tuntutan diri sendirilah yang selalu membuatku tak bisa berpuas diri jika hasil akhir yang kuraih bukan nilai sempurna.
Katakanlah nilai maksimal 90. Sementara aku hanya meraih 87. Aku pasti berlaku bak peri rumah di kisah Harry Potter yang sedang melakukan kesalahan. Ya, menghukum diriku sendiri. Berbagai cara yang sangat egois bin kejam sebenarnya. Karena yang ku tahu, kita harus mencintai diri sendiri sebelum orang lain. Sayang, kepribadianku yang langka ini memang lain dari yang lain.
Labirin hati yang ada pada jiwaku semakin menjadi. Ketika emosi membuncah akibat hal-hal kecil namun sangat mengganggu. Semak belukar berakar kuat serabut sangat dahsyat menggenggam hatiku untuk menarik diri dan menjauh. Tapi ketika "ruh" ceria sedang menghinggapi, aku tak bisa menahan diri untuk ikut berceloteh dengan siapa saja yang bisa kuajak bicara.
Pendiam?
Penyendiri?
Pemarah?
Egois?
Tak pandai bersyukur?
Itukah yang Tuhan CAP pada diriku? Oh entahlah~ yang jelas, itu adalah penilaian mama padaku.
Yah, aku hanya berharap, mama di surga sana sekarang tidak lagi kesakitan, tidak lagi kekurangan, tidak lagi harus mengorbankan hatinya demi aku ataupun orang lain..
Dan bagi "dia" yang pernah menyakiti aku bahkan dengan "ilmu" magisnya, biarkan Tuhan yang membalasnya~...
Yang penting, kini aku sudah mulai sehat.. setelah 2 tahun kemarin mengalami sakit yang tak sewajarnya..
Semoga Tuhan memberkatiku dan melindungi aku dari "gangguan" itu lagi atau semacamnya. AMIN.--- dari sudut notebook yang baru saja berdamai, Tangerang Selatan 13/05/12
0
Coment
Posted in
Label:
Maya Noorwidia Ulaeni
KETIKA SESUATU TERTANGGALKAN
Oleh : Maya Noorwidia Ulaeni
4
April 2012
Bingung
banget, skenario film belum beres… toloooooooooooooooooooooooooooooooooooooooong ..
Teruntuk Pak Yus :
Pak, mohon maaf untuk penulisan
skenario film belum bisa dirampungkan pecan ini. kesibukan
yang sangat menyita waktu, menjadi alasan
utama. Entah harus berkata apa, sebenarnya saya ingin sekali memiliki
waktu
luang dan santai, kesibukan di semester ini sangat berbeda jauh dari
semester
sebelumnya, tugas kuliah semakin menumpuk, ditambah lagi pekerjaan di
tempat
saya mengajar. Dilengkapi dengan kesibukan di rumah mengelola usaha
kecil-kecilan. namun jujur saja, dari pertama saya mendapat tugas
menulis
skenario film, saya sama sekali tidak tahu bagaimana cara menulis naskah
skenario propesianal, saya juga tidak tahu harus mulai dari mana dulu
saya
menulis. Namun dengan bekal usana, niat dan tekad, saya sharing dengan
seorang
penulis skenario, saya bertanya perihal skenario film, namun ternyata
diskusi
panjang pun tak cukup membuat saya paham dan mengerti, saya mulai
melakukan
blog walking untuk mencari informasi seputar dunia penulisan skenario
fil,
namun itu pun belum membuat saya paham bagaimana cara menulis skenario,
hingga
saya berdiskusi dengan penulis skenario FTV , dan beliau menawarkan buku
cara
menulis skenario professional.. dan dari sanalah saya belajar, hingga
tahap demit ahap saya berjuang untuk mengerti dan lebih mengerti, Apa daya,
manusia tak memiliki dimensi robotik, sehingga ada saja sesuatu hal yang
tertanggalkan, kalau saja saya boleh memaparkan alasan yang sesungguhnya,
itulah alasan mengapa tugas skenario belum tuntas.
Mohon maaf kepada dosen
favorit saya (Yus Rusmana),
terimakasih-Maya Noor
0
Coment
Posted in
Label:
Maya Noorwidia Ulaeni
HARU KU PADA GURU!
Oleh: Maya Noorwidia Ulaeni
28 Januari 2012 – sore
Helaan nafasku sore ini sangat indah tertata dalam rongga :)
Lembayung senja pun seakan mengecupkan ciuman hangatnya di keningku dan
memberitahu bahwa sekarang suDah jam 16.00 :) Jingga kemerahan itu memang
setia, selalu menantangku untuk menyunggingkan senyuman hangat dari bibirku.
Jam di akhir pekan ini memang terasa hangat meraja bahagia, mungkin karena UAS
semester 5 ku rampung juga di hujung pekan ini :) Rasa lelah hari ini seakan
tergantikan, dengan melihat wajah guru favoritku [----Pak Yus----], itu
panggilan akrabku padanya [-----Yus Rusmana-----]. hari ini beliau mengumpulkan
para penulis novellete yang terjaring untuk penerbitan buku. Kabar yang indah,
novelleteku yang berjudul "Jebak Ilalang" tersaring didalamnya. Rasa
syukur yang menyeruak membahana membuat hujung senjaku terasa tenang dan menang
[alhamdulillah]. namun ku redam rasa bahagiaku di depan teman-teman kala itu,
hanya ucapan alhamdulillah dan senyuman mesra bersahabat yang ku ukir kala itu
[padahal, aku ingin sekali berteriak dan tertawa girang atas apresiasi yang ku terima
dari perjuanganku menulis novellete kala itu,hehe]. Dengan hati yang sadar, Aku
jadi teringat pepatah ayahku dulu, "Jadikanlah dirimu dan ilmumu
seperti padi yang berjuang tumbuh dan memberikan hasil pada semua orang tanpa
pernah menengadahkan batangnya (sekalipun ia disanjung dan dipuji oleh semua
orang).
Jujur, saat itu aku terpukau atas apa yang dipesankan oleh ayahku, teladan, renungan, dan cerminan adalah beliau yang selalu ku sayang (papa). Sekarang aku duduk di jurusan Sastra indonesia, wacana yang diamanatkan oleh ayahku seperti feature yang tertulis rapi dalam nadi-nadi setiap penullis, kalau kita ingat pribahasa >> Berilmulah seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk. Sampai saat ini, aku terus mengingat dan menerapkan pribahasa itu dalam hidupku. Aku juga jadi teringat sama tanteku [---Eem Emalia---], novellete yang ku tulis itu (masih dalam bentuk soft copy) mendapat apresiasi positif darinya, semangat dan kesediaannya menjelajahi cerita dalam novelleteku, dan memberikan kesan-kesan unik yang ia dapatkan setelah membacanya serta memberikan saran-saran menarik untuk hujung cerita dalam tulisanku, sontak membuatku hatiku berbunga [hehe], karena jarang sekali ada orang yang bersedia meng-endosement karya seseorang sedalam dan sesetia beliau [thanks for ur edos, my aunt :)]. Aku tinggal mengumpulkan tulisan pelengkap dalam bukuku: kata pengantar penulis, riwayat kepenulisan, surat keterangan keaslian naskah dan beberapa foto bebas, hehe. hatiku berdoa semoga perjalanan dan proses penerbitan hingga pemasarannya lacar serta penuh berkah, aamiin :) Perasaan bahagia tetap bertahan di hatiku kala itu, tanpa menghimpun perasaan angkuh dalam tubuh, akhirnya ku mampu lewati pertemuan gembira bersama penulis-penulis novellete di ruang 23 saat haru. Terimakasih guru atas apresiasi hari itu. :)
Jujur, saat itu aku terpukau atas apa yang dipesankan oleh ayahku, teladan, renungan, dan cerminan adalah beliau yang selalu ku sayang (papa). Sekarang aku duduk di jurusan Sastra indonesia, wacana yang diamanatkan oleh ayahku seperti feature yang tertulis rapi dalam nadi-nadi setiap penullis, kalau kita ingat pribahasa >> Berilmulah seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk. Sampai saat ini, aku terus mengingat dan menerapkan pribahasa itu dalam hidupku. Aku juga jadi teringat sama tanteku [---Eem Emalia---], novellete yang ku tulis itu (masih dalam bentuk soft copy) mendapat apresiasi positif darinya, semangat dan kesediaannya menjelajahi cerita dalam novelleteku, dan memberikan kesan-kesan unik yang ia dapatkan setelah membacanya serta memberikan saran-saran menarik untuk hujung cerita dalam tulisanku, sontak membuatku hatiku berbunga [hehe], karena jarang sekali ada orang yang bersedia meng-endosement karya seseorang sedalam dan sesetia beliau [thanks for ur edos, my aunt :)]. Aku tinggal mengumpulkan tulisan pelengkap dalam bukuku: kata pengantar penulis, riwayat kepenulisan, surat keterangan keaslian naskah dan beberapa foto bebas, hehe. hatiku berdoa semoga perjalanan dan proses penerbitan hingga pemasarannya lacar serta penuh berkah, aamiin :) Perasaan bahagia tetap bertahan di hatiku kala itu, tanpa menghimpun perasaan angkuh dalam tubuh, akhirnya ku mampu lewati pertemuan gembira bersama penulis-penulis novellete di ruang 23 saat haru. Terimakasih guru atas apresiasi hari itu. :)
