twitter

Tampilkan postingan dengan label Yulina Trihaningsih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yulina Trihaningsih. Tampilkan semua postingan

[Bukan Buku Harian Biasa] – Yulina Trihaningsih
Tangerang. Ahad, 4 Desember 2011 – Cerita Kehidupan
 
Sudah lama nggak posting BBHB. Hari ini, aku ingin sekali menulis kisah nyata tentang istimewanya kekuatan doa dan salat Dhuha dalam kehidupan sebuah keluarga yang aku kenal ^_^. Aku tuliskan sebagai catatan kecil pengingat diri ini ....
===========================================================
 
                Pak Anto dan Bu Ina adalah sepasang suami istri yang sedang berhajat ingin menjual rumah mereka. Alasan pertama, karena Pak Anto mendapat promosi untuk merintis satu cabang pabrik baru di lain propinsi. Alasan kedua, anak-anak mereka sudah tumbuh semakin besar, dan rumah mungil yang mereka tempati saat ini, terasa begitu sesak hingga tidak menyisakan tempat untuk bernapas. Akhirnya, bulatlah keputusan Pak Anto dan Bu Ina untuk menjual rumah mereka.
 
Tapi, urusan menjual rumah, tentulah tidak seperti menjual kacang rebus. Kota tempat tinggal mereka saat ini, adalah kota penyangga ibu kota negara. Mereka berharap sekali mendapatkan harga yang tinggi untuk rumah mungil mereka, agar dapat membeli rumah baru yang lebih besar dan luas di kota tetangga.
 
Hingga suatu pagi, keduanya menonton sebuah acara TV yang dipandu oleh seorang ustad muda. Ustad tersebut bercerita tentang kehidupannya di masa lalu yang terlilit banyak hutang, dan kemudian memutuskan menyerahkan segala urusannya itu kepada Allah saja. Dia lakukan salat Dhuha setiap hari, dan memutuskan untuk menginfakkan 100% royalti penjualan bukunya di saat sulit itu. Dan, subhanallah, betapa Allah kemudian menunjukkan kuasa-Nya, dengan memberikan ganti yang berlipat-lipat, dan menghapus semua hutangnya.
 
Pak Anto dan Bu Ina tercenung. Mereka merasakan juga betapa beratnya hidup mereka saat ini, karena mempunyai hutang kepada manusia (baca: bank). Apalagi, mereka juga mempunyai hajat untuk menjual rumah mungil mereka secepatnya.
 
Maka, Pak Anto dan Bu Ina pun mulai memperbaiki lagi salat Dhuha mereka. Yang tadinya hanya dua rakaat, sekali-kali saja. Sekarang menjadi enam rakaat, minimal, setiap harinya. Bu Ina berdoa sungguh-sungguh di setiap salatnya, hingga tidak terasa air matanya mengalir.
 
“Janganlah Engkau tahan rezeki kami, Ya Allah ....  Ampuni dosa-dosa kami, hapuslah hutang-hutang kami, dan mudahkanlah setiap hajat kami di dunia ini.”
 
Salat Dhuha mulai mereka langgengkan. Hingga kemudian, mereka mulai memikirkan apa yang bisa mereka infakkan 100% di saat ini. Untuk mengorek uang belanja, rasanya sulit dan tidak seberapa. Tiba-tiba Bu Ina ingat uang tabungannya di arisan RT yang masih berjalan. Rencananya kalau dapat, uang itu untuk membayar uang buku sekolah kedua anaknya yang sudah ditagih pihak sekolah, dan juga untuk menambal kebutuhan mereka sehari-hari.
 
“Yah, bagaimana kalau nanti dapat uang arisan, kita infakkan 100%?” usul Bu Ina. Pak Anto memandang istrinya, tersenyum.
 
“Wah, boleh, Bu. Berapa sekali dapat?”
 
“Dua juta kurang 50 ribu. Tapi, baru dua kali kocokan. Yang ikut 27 orang. Sekali kocok, yang dapat dua orang,” jelas Bu Ina, merasa tidak yakin.
 
“Yah, kita berdoa saja. Siapa tahu jodoh.” Pak Anto menyemangati istrinya.
 
Ketika awal bulan tiba, dan arisan akan dimulai, Bu Ina sempat merasa ragu. Ia merasa, seperti sedang menguji keyakinannya terhadap janji Allah. Merasa tidak yakin juga, pantaskah dirinya mendapatkan janji tersebut. Namun, dia pasrahkan saja semuanya kepada yang menggenggam jiwanya.
 
Ketika kocokan dikeluarkan, keluarlah dua gulungan kertas dari dalam gelas. Bu Budi, ketua arisan, meminta Bu Ina dan Bu Evi untuk membuka gulungan kertas itu.
 
“Bu Budi!” seru Bu Evi membaca nama yang ada di dalam gulungan kertas di tangannya. Ibu-ibu mulai ramai menggoda Bu Budi yang mendapat arisan. Gemetar tangan Bu Ina membuka gulungan kertasnya.
 
“Bu Rini ...” seru Bu Ina pelan.
 
“Wah, Bu Rini nggak hadir ini, bagaimana?” tanya Bu Budi.
 
“Tapi, kalau dia sudah bayar sih, kasih aja, Bu. Kasihan ...” Bu Ratna bersuara.
 
“Hm ..., begitu, ya? Tapi, bulan lalu namanya juga keluar, dan dia menolak dapat di awal. Coba saya tanyakan dulu, ya ...” inisiatif Bu Budi.
 
Sementara itu, pelan-pelan Bu Ina mencoba berkompromi dengan perasaannya. Ada sedikit rasa kecewa di sana. Dia tersenyum, mencoba melapangkan hatinya.
 
“Ibu-ibu ...,  Bu Rini minta namanya dimasukkan lagi. Jadi, kita kocok satu lagi ya, Bu ...” Bu Budi melaporkan setelah menelpon Bu Rini.
 
Ibu-ibu tertawa dan mulai kembali berharap. Satu gulungan kertas keluar lagi dari gelas kocokan. Bu Budi kembali menyerahkan gulungan itu kepada Bu Ina.
 
Perlahan Bu Ina membuka gulungan itu dan membaca nama di sana. Sebelum berbicara, dihadapkannya kertas itu ke arah ibu-ibu agar semua dapat melihat dan ikut membacanya.
 
“Wah ..., Bu Ina ...!” seru ibu-ibu sambil tertawa. Sementara Bu Ina hanya bisa tersenyum sambil berusaha meredakan gemuruh yang ada di dadanya. Rasanya ingin menangis. Menyadari, dia sempat meragukan janji Tuhannya. Entah bagaimana dia bisa menjelaskan semua peristiwa yang baru saja dia alami. Tapi, yang pasti, sejak saat itu dia bertekad untuk tidak meninggalkan salat Dhuha, dan tidak akan pernah lagi meragukan janji sang penguasa langit dan bumi.
 
*Dan cerita ini masih berlanjut ... ^_^


[Bukan Buku Harian Biasa] – Yulina Trihaningsih
Tangerang. Ahad, 23 Oktober 2011 – Mimpi
 
                Hidup terasa lebih hidup bagiku setahun belakangan ini. Mungkin aku termasuk manusia yang telat menyadari apa sebenarnya mimpi-mimpi dalam hidupku. Ternyata, mengenali apa sebenarnya mimpi-mimpi kita, lalu memberanikan diri melangkah masuk ke dunia yang kita impikan, tenggelam dalam lautan dunia asing yang belum pernah kita pijak, membuatku tersadar ada hal-hal yang begitu menyenangkan untuk diperjuangkan, ternyata.  
                Aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk menjadi Stay at Home Mommy. Tidak pernah merasakan bekerja kantoran dan menerima gaji :D. Namun, setelah sepuluh tahun berlalu, mengapa kurasakan sesuatu yang mengganjal? Aku merasa kehilangan sesuatu dalam diriku. Padahal, aku bukanlah ibu yang hanya diam di dalam rumah. Hari-hariku selalu terisi dengan kegiatan belajar dan mengajar, dan bertemu dengan banyak orang. Tapi, mengapa sering kurasakan sepi?
                Maka, aku mulai lagi menuliskan segala resahku dalam blogku di multiply yang sudah lama mati suri :D, dan terkadang catatanku itu aku share pula di FB. Tidak sering memang, namun suatu hari seorang teman lama di masa kuliah mengomentari catatan-catatan kecilku itu. Seseorang yang memang kukenal sebagai penulis sejak dulu J.
                Dia memotivasiku untuk terus menulis dan menyarankanku untuk ikut lomba-lomba kepenulisan online. Tidak lupa diperkenalkannya link di FB yang berisi banyak info tentang lomba kepenulisan online. Tiba-tiba saja aku seperti terbangun dari tidur panjangku. Aku seperti menemukan lagi semangat baru dalam hidupku, ketika kusadari seseorang telah menunjukkan dengan jelas kepadaku dunia yang sesungguhnya telah lama kucintai, namun entah mengapa aku seperti tersesat untuk masuk kembali ke dalamnya. Ketika kujelaskan kepadanya bahwa alasanku menulis hanyalah untuk ‘membebaskan’ perasaanku, dengan bijak dia membalas:
                “Menulis itu kan tidak harus untuk dinikmati sendiri. Bila orang lain bisa tercerahkan dengan tulisan kita, berarti kita sudah bersedekah kata ....”
Sejak saat itu, aku sangat menikmati hidup dengan bermimpi. Hari-hari terlewati dalam dunia aksara, bergabung dalam komunitas kepenulisan dan bertemu dengan banyak orang dengan mimpi yang sama. Sungguh, mimpi inilah  yang membuat hidupku terasa penuh warna dan menyenangkan.
 
*Berterima kasih kepada sahabat lama: Nursalam AR.


 
Seperti biasa, aku telat (lagi) mengikuti DL tulisan. Perasaan baru saja kemarin gagal ngirim ke Aquanetta karena baru baca DLnya jam enam sore di jam sepuluh malam, padahal aku sudah keburu kirim emailnya T_T. Sekarang gagal DL di LCR II , karena terlalu santai mengira DL masih tanggal 15 :D. Ya sudahlah, mudah-mudahan Allah mudahkan dan terus semangatkan jiwaku untuk terus menulis, melebihi semangatku untuk kegiatan fb walking dan browsing2 :D.
        Aku ingin mengabadikan tulisan airku di sini. Ingat kalau dulu waktu SMP, aku suka sekali menempelkan hal-hal yang menarik di buku diaryku. Sekarang, menempelkan sesuatu di diary terasa begitu mudah dan menyenangkan. Betapa waktu 15 tahun merubah wujud diary menjadi sesuatu yang begitu berbeda, ternyata ^^.
[KRISTAL AIR]
Seperti halnya diriku, aku yakin air adalah ciptaan-Nya yang maha sempurna. Tapi, aku mungkin belum bisa sepenuhnya seperti air, yang senantiasa tunduk dan memuji-Nya, betapa pun kuingin. Karena, hawa nafsu tetaplah ujian bagi setiap manusia. Namun, bila aku mengingat air, maka segera aku akan mengingat betapa istimewa dan indahnya kristal air yang terbentuk di saat udara beku, bila bersentuhan dengan kalimat-kalimat yang baik, lembut, dan menyenangkan. Begitu juga sebaliknya, kristal air tidak akan terbentuk dan terlihat rusak, bila bersentuhan dengan kata-kata yang buruk, keras, dan menyakitkan. Seperti itulah penelitian Dr. Masaru Emoto.
Lalu, sederhana saja pemikiranku. Bila kita ingin memperbaiki diri sendiri, maka perbaikilah lisan kita. Jika kita ingin memperbaiki orang lain, maka lembutkanlah lisan kita. Mengapa? Karena 60% dari tubuh manusia adalah air, dan aku pun meyakini bahwa kata-kata yang baik akan selalu membawa kebaikan. Kata-kata yang baik akan selalu memperbaiki kehidupan. Aku sungguh memercayainya, apakah kau memercayainya juga?
  
Rabu, 5 Oktober 2011


[Bukan Buku Harian Biasa] – Yulina Trihaningsih
Tangerang. Senin, 19 September 2001 – Ibu Secantik Bulan dan Bintang
 
            Awalnya aku sedih. Banyak event kepenulisan yang lewat karena kelalaianku sendiri. Padahal, dari jauh-jauh hari sudah kutulis di buku kecilku event-event tersebut, tenggat waktunya, hingga outline tulisan yang akan aku tulis. Ternyata di bulan Ramadan kemarin aku nyaris tidak produktif menulis sama sekali. Selain karena jarang mendapatkan jatah memegang PC di siang hari, karena ngantri dengan dua orang jagoanku yang betul-betul menguasai barang itu dengan alasan: “Kan aku sedang puasa, Bu ....” (apa hubungannya coba?), belakangan ini aku juga sudah tidak kuat lagi terjaga di malam hari untuk menulis. Dan rasanya, sayang sekali bila waktu-waktu Ramadan itu tidak aku kejar untuk mengkhatamkan Alqur’an. Alhamdulillah, masih bisa ikut satu event Ramadan, walau nggak lolos juga :p. Yang penting, aku sudah mencoba lagi melenturkan jemariku merangkai kata setelah sekian lama vakum.
            Entah mengapa, kemalasan untuk mulai menulis terus merembet hingga kini. Bersyukur juga ada program BBHB, jadi aku bisa menulis apa saja yang aku mau. Padahal kalimat-kalimat provokasi yang ditulis PP di statusnya selalu kubaca dan terasa menyentilku, kalau tidak mau dibilang menjewerku. Tapi, entahlah aku masih saja malas untuk mulai menulis. Seperti ketika aku mencari bahan untuk penulisan tentang Palestina kemarin. Yang ada aku malah asyik membaca dan hanya membaca berita maupun artikel tentang perang Palestina. Rasanya sudah tidak bersemangat lagi untuk menuliskan ideku sebelumnya.
Hingga akhirnya aku merenung. Aku tidak mau menulis karena terpaksa. Aku tidak mau menulis karena dikejar tenggat waktu. Aku ingin menulis dengan bahagia. Aku ingin menulis yang aku suka. Aku ingin menulis karena aku cinta. Mungkin itu terdengar seperti  alasan pembenaran yang aku buat sendiri. Tapi sungguh, aku merasa (sedikit lega) dengan kesadaran itu. Karena Hana yang sakit, atau anak-anak yang rewel menuntut perhatian lebih ibunya, atau jaringan internet yang suka bermasalah ketika proses menulisku sedang berjalan, tidak akan lagi membuatku sedih dan kecewa. Sungguh aku belajar lagi arti kesabaran. Bahwa ada hal-hal yang tidak bisa tergantikan, seperti cinta dan kebersamaan dalam keluarga. Kesempatan menulis akan selalu ada, tapi keceriaan dan kesempatan melihat ketiga buah hatiku tumbuh tidak akan pernah terulang lagi.
Kemarin sore, ketika sedang duduk bersama Taufiq, tiba-tiba saja Taufiq bertanya kepadaku.
“Ibu, Ibu cantik nggak?”
“Cantik dong ....”
“Ibu secantik bulan dan bintang!”
Aku tertegun. Belum pernah kudengar kata-kata seindah itu sebelumnya, bahkan dari Ayah J. Dan aku merasa, kata-kata indah itu begitu berharga untuk diabadikan.


[Bukan Buku Harian Biasa] Yulina Trihaningsih
By Yulina Trihaningsih · Last edited 32 minutes ago · Edit Doc · Delete

[Tangerang. Kamis, 15 September 2011] - Life Is Beautiful


Dua hari nggak nulis BBHB, aku punya banyak cerita. Alhamdulillah enam buku Wajah Wajah Kayu Bapak yang aku pesan tanggal 7 September lalu sampai ke rumah hari Selasa kemarin. Enam buku pesanan orang dari sebelum lebaran kemarin. Padahal aku pikir akan datang lebih lama, karena aku baru ngerti kalau penerbitnya itu nggak punya stok buku, dan baru cetak lagi sesuai pesanan. Ternyata, dalam waktu seminggu sudah langsung bisa kuterima. Mudah-mudahan ini bukan karena cerewetnya aku terus bertanya lewat inbox mereka, hehehe. Dan kenapa tiba-tiba saja sekarang aku jadi hobi nunggu tukang paket datang bawa paket isi buku ya? :p

Itu satu cerita. Cerita kedua, Hana sakit :(. Sedih sekali aku kalau putri kecilku itu sakit. Badannya panas, dan buang airnya sering. Tapi yang buatku bersyukur, dia tetap mau makan, dan alhamdulillah, tidak kehilangan keceriaan dan rasa humornya :D. Ya Allah, sembuhkanlah putri kecilku. Angkatlah penyakitnya dengan tidak meninggalkan penyakit lagi. Aamiin, allahumma aamiin.

Cerita ketiga, akhirnya jadi juga aku kirim konsultasi karya ke PP. Itu niat lama yang selalu ketunda. Untungnya tiba-tiba aku ingat punya stok cerpen yang nggak lolos audisi. Setelah aku baca-baca lagi, edit sedikit, jadilah terkirim. Tapi, ow ow, kenapa waktu aku buka file lampirannya isinya lain? Kok isi filenya jadi cerpen lama yang belum jadi? Huwaaa, sedikit panik, karena mepet mau berangkat ke pengajian, kucari file yang kumaksud, akhirnya ketemu di file unduhan. Aku juga bingung kenapa bisa ada di sana dan bukan di dokumen? Akhirnya aku salin lagi file itu, buat nama baru dan kirim ulang. Alhamdulillah berhasil. Jadi agak-agak malu kalau ingat kejadian itu :).

Cerita terakhir adalah tentang manusia dan kehidupan. Minggu ini, semua aktivitasku kembali normal setelah liburan lebaran yang panjang. Berarti, selain anak-anak yang mulai sekolah, proses belajar dan mengajarku pun kembali normal. Aku senang bertemu lagi dengan sahabat-sahabatku, berbagi kisah dan hikmah kehidupan. Merenung, dan belajar mendengarkan dengan hati dan pikiranku. Tidak semata-mata dengan telingaku. Dan selalu, kisah-kisah mereka mampu membuatku terus bersyukur akan kehidupan yang sudah Allah karuniakan kepadaku. Ternyata, hidup yang indah bukanlah hidup yang tanpa masalah. Aku merasakan hidup ini indah, saat aku ikhlas menjalani setiap ketetapan-Nya dalam hari-hariku.


[Tangerang. Senin, 12 September 2011] - Jodoh Oh Jodoh ...

Karena baca postingan di WR yang banyak nyenggol soal jodoh :), aku jadi flash back ingat masa-masa ketemu jodohku sebelas tahun yang lalu.

Urusan jodoh memang misteri Allah. Tapi, sebagaimana maut, dan susah-senangnya kita hidup di dunia ini, semua itu sudah Allah tetapkan sejak pertama kali Dia tiupkan ruh ke setiap janin di dalam rahim ibunda. Jodoh bisa datang cepat atau terlambat. Dia bisa datang di saat kita sudah benar-benar siap, atau di saat yang tidak kita sangka-sangka sama sekali. Maka, betapa besar kekuatan doa kurasakan dalam membimbingku dalam menjalani urusan jodoh ini.

Saat itu, aku masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir, semester delapan, di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Aku sedang disibukkan dengan tugas magang di salah satu LSM yang bergerak di bidang edukasi tentang kesehatan reproduksi kepada remaja, di daerah Jakarta. Aku sih berharap selesai magang, bisa langsung mengurus proposal skripsi dan selesai kuliah tepat waktu.

Beberapa bulan sebelumnya, aku pernah meminta bantuan seorang teman Rohis waktu di SMA dulu, untuk mencarikan guru mengaji laki-laki untuk anak-anak asuh di rumahku. Dan tanpa tahu apa yang sudah Allah rencanakan dalam hidupku, di situlah ternyata titik awal pertemuanku dengan calon suamiku. Singkat cerita, dia menghubungi kakak kelasnya, yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku ternyata, untuk membantuku membimbing anak-anak asuh di rumahku.

Surprisenya, ternyata aku merasa pernah mengenal kakak kelasku ini, karena ternyata dia pernah menjadi guru BTA (Bimbingan Tes Alumni) ketika aku berada di kelas tiga, saat dia sudah kuliah di Fakultas Teknik UI. Awalnya sih biasa-biasa saja, nggak ada sesuatu yang heboh terjadi :D.  

Tiba-tiba saja, di suatu hari, setelah selesai salat Isya, teman SMA ku itu menelponku.

"Lagi apa, Lin?"

"Nggak lagi apa-apa. Baru selesai salat Isya."

"Ada yang mau aku tanyain nih, tapi jangan kaget ya ...."

"Apa?"

"Ngg ..., Yulin sudah siap nikah belum?"

Tiba-tiba saja tanganku jadi berkeringat dan aku merasa gemetaran. Jujur, ini pertanyaan yang baru sekali-kalinya ditanyakan ke aku seumur hidupku :D.

"Kenapa memangnya?" tanyaku pelan, walau aku sudah membaca arah pertanyaannya.

"Ada seseorang yang minta ditanyakan ke Yulin langsung. Dan insyaallah yulin kenal orangnya. Dia sudah ngobrol sama orangtua Yulin, dan kata mereka semua terserah Yulin."

Mataku langsung terasa berkunang-kunang. Kuteguhkan hatiku untuk bertanya pertanyaan yang sepertinya sudah bisa kutebak jawabannya.

"Siapa?"

"Kakak kelas kita itu ...."

Saat itu, yang aku ingat aku tidak bisa menahan air mata yang turun tanpa permisi. Temanku itu sampai kaget begitu mengetahui aku menangis.

"Kenapa nangis, Lin. Proses pertama kali ya..." katanya, lebih seperti ngeledek :D.

"Ya sudah, nggak mesti langsung dijawab kok. Pikirin dulu deh yang tenang."

Setelah malam itu, adalah masa-masa aku berpikir dan merenung. Sungguh, aku tidak menyangka akan ada yang mengajakku menikah di usia 21. Siapkah aku? Mengingat aku yang childish, nggak bisa masak, dan kuliahku? Tanggung sebentar lagi selesai. Tapi, saat itu aku justru terpikir akan sahabat-sahabatku di Rohis kampus. Entah mengapa, mereka sering sekali menggodaku bahwa aku akan menikah cepat dan yang pertama kalinya di antara teman-teman seangkatan. Bahkan, mengetahui aku yang tidak bisa masak, mereka secara spesifik selalu mendoakan aku mendapatkan jodoh orang Padang, supaya aku terpacu untuk belajar masak :D. Ya Allah, betapa ucapan itu adalah doa! Ucapan itu adalah doa! Karena, semua itu benar adanya, alhamdulillah ... :D.

Tidak sampai dua bulan setelah itu, aku pun menikah. Kuliahku molor dua semester, tapi alhamdulillah semua bisa kuselesaikan dengan bantuan dan doa dari sahabat-sahabatku, dan keluarga yang mencintaiku. Hingga saat foto wisudaku pun sudah ada Yahya di sana.

Setiap kuingat peristiwa ini, maka ayat surat Ar Rahman lah yang selalu melintas di hatiku. Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan?

====================================================


[Tangerang. Ahad, 11 September 2011] - L E A D E R

L E A D E R, adalah kumpulan huruf yang ada di topi hitam Ayah. Dan Ayah suka sekali memakai topi itu. Aku juga suka melihatnya memakai topi itu. Ayah adalah orang yang berani bermimpi dan punya visi yang kuat. Dan aku adalah saksi hidup jatuh bangun perjalanan hidupnya selama sebelas tahun waktu yang telah kami lewati bersama. Dia guru motivasiku.

Ayah pernah bercerita tentang ciri-ciri pemimpin tingkat 5, tingkat tertinggi dalam kepemimpinan yang ditulis dalam buku Good To Great (Jim Collins). Pemimpin tingkat 5 adalah orang yang rendah hati, sederhana, menghindari pujian berlebihan, tapi terus berusaha untuk kebaikan dan kepentingan perusahaan, bukan pribadi. Dan aku suka setiap Ayah bercerita tentang kepemimpinan. Aku suka dengan cerita-cerita dan buku-bukunya yang penuh motivasi. Aku juga suka setiap dia menceritakan mimpinya untuk menjadi CEO perusahaan suatu hari nanti, dan tiba-tiba saja setiap kami pergi bersama, selalu kami temukan mobil-mobil di sekitar kami dengan nomor plat berakhiran CEO :D.

Dan aku jadi teringat seorang sahabat maya dengan kumpulan huruf yang sama di namanya: Erpin Leader :D. Sepertinya, jika dua orang ini bertemu, mereka akan terlibat pembicaraan yang seru dan mengasyikkan seputar kepemimpinan.


[Tangerang. Sabtu, 10 september 2011] - Raindrops Keep Falling On My Head

Aku lihat status yang Ayah tulis di BBMnya:

No rain, but raindrops keep falling on my head, Alhamdulillah ....

Aku jadi tertawa membacanya.

"Kenapa, Yah? Ada masalah di kantor?" Ayah hanya tertawa kecil sambil menggeleng.

"Biasa aja ..., tapi memang Ayah banyak terinspirasi dari lagu-lagu yang Ibu suka."

Aku tersenyum. Aku memang selalu suka lagu-lagu dengan kata-kata yang memotivasi. Raidrops Keep Falling On My Head, salah satunya. OST film Spiderman 2 ini mengajariku untuk selalu berpikir positif atas segala situasi yang kita hadapi, sesulit dan sesedih apa pun itu.

Raindrops keep falling on my head
But that doesn't mean my eyes will soon be turning red
Crying's not for me
'Cause I'm never gonna stop the rain by complaining
Because I'm free
Nothing's worrying me

Berbicara hujan, tiba-tiba saja aku jadi kangeeen sekali sama hujan. Aku lihat dari jendela kamar, langit Tangerang kembali terlihat cerah. Sungguh, aku rindu sekali aroma hujan.


[Tangerang. Jum'at, 9 September 2011] -

Barusan selesai baca buku Kisah Masa Kecil Pemimpin Dunia (Beby Haryanti Dewi), yang aku beli khusus untuk Yahya dan Taufiq. Sukaaa sekali baca bukunya. Ternyata para pemimpin dan orang-orang hebat itu bukanlah manusia yang sempurna dalam sifat, sikap, dan takdir jalan hidupnya. Mereka hebat dengan menjalani kehidupan yang tidak mudah, berani bermimpi, kerja keras, belajar tekun, memiliki keluhuran budi, serta adanya doa dan dukungan dari keluarga tercinta.

Ban Ki Moon setiap hari rela berjalan 10 km untuk dapat belajar bahasa Inggris dengan seorang penasihat pabrik pupuk yang asli orang Amerika.

Kesederhanaan dan dan keteguhan keyakinan, tidak pernah berubah sejak kecil hingga menjadi Presiden, dari seorang Mahmoud Ahmadinejad.

Siapa sangka cita-cita Vladimir Putin menjadi anggota KGB, setelah menonton film spionase bersama teman-temannya, menjadi bahan tertawaan seluruh temannya. Tapi cita-citanya itu, dan cita-citanya yang lain untuk menjadi orang terkenal, terwujud ketika dia menjadi Presiden Rusia.

Dan Tony Blair ternyata pernah hampir dikeluarkan dari SMA, seminggu sebelum kelulusan, karena sekolahnya sudah tidak sanggup lagi mengatasi kenakalannya :).

Sungguh, aku tercerahkan sekali dengan membaca buku ini. Aku berharap, kelak anak-anakku juga bisa tumbuh menjadi anak-anak yang dapat menginspirasi orang lain karena prestasi dan kebaikannya, sama seperti aku saat ini, yang terinspirasi oleh banyak orang hebat di dunia ini ....


Liburan sekolah yang terlalu panjang sungguh bikin aku bete. Bukan apa-apa, kalau dua jagoan di rumah sudah terlalu lama berinteraksi dalam jarak yang dekat, hampir bisa dipastikan perang saudara akan terjadi. Frekuensinya bisa kayak orang minum obat, tiga kali sehari, capeee deeh ....

Dengan kondisi rumah yang berantakan setelah seminggu ditinggal mudik, teteh yang masih betah banget di kampung, jadilah hal-hal kecil bisa membuat siapa pun bertanduk dan berasap. Hasyah .... Seperti yang terjadi hari ini. Perang saudara betul-betul membuatku pusing dan jengkel. Kadang aku merenung, aku yang terlahir sebagai si bungsu yang manis, kalem, penurut, dan  penyabar, bisa berubah menjadi seseorang yang cerewet, heboh, pemarah, ketika dua orang jagoan lahir dari rahimku. Huhuhu, mengapa tiba-tiba kutemukan dua lembar rambut putih di kepalaku? Sudah setua itukah usiaku? Dan mengapa di antara dua alisku kini terbentuk garis tipis, yang menandakan betapa seringnya aku mengernyitkan keningku setiap aku merasa gusar? Herannya, setiap melihat diriku, selalu orang berkomentar betapa sabarnya aku sebagai seorang ibu!

Karenanya, ketika Hana si putri kecil lahir, betapa bahagianya hatiku mempunyai penyeimbang jiwa yang setelah sekian tahun condong ke dunia laki-laki. Walau kini, setelah dua tahun berlalu, aku pun menyadari betapa hebatnya master-master seni kehidupan, yang tidak lain adalah kedua abangnya, mengajari putri kecilku itu menyaingi aku, ibunya.

Kembali ke suasana hatiku yang galau setelah menyaksikan perang saudara di hadapanku, tiba-tiba saja Hana pun menguji kesabaranku dengan ingin mengerjakan semua hal sendiri saja tanpa bantuanku. Ketika ingin kubantu, dia malah berteriak marah dan menatapku tidak senang. Kutatap juga dia dengan tidak senang. Menyadari kemarahan ibunya, tiba-tiba saja Hana bersenandung pelan.

"Jagalah hati .... Jagalah hati ...."

Muka cemberutku seketika berubah menjadi tawa berkepanjangan. Tidak tahan kupeluk dan kuciumi pipinya yang gembil. Terima kasih ya Allah, sudah Kau tegur dan hibur aku lewat lisan putriku kecilku yang cantik. Memang Ibu harus belajar lagi menjaga hati ....



Tangerang, 7 September 2011