twitter

Tampilkan postingan dengan label Ica Alifah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ica Alifah. Tampilkan semua postingan

Bogor, Kamis 15 September 2011
RQ, lantai atas
11:39 WIB
Bismillah…

Liqo’ Maftuhah- Edisi Balapan Cinta

            Malam yang syahdu…haha, setelah sekian lama kami pun berkumpul dalam agenda Liqo’ Maftuhah (pertemuan terbuka) semacam rapat bulanan untuk evaluasi program di RQ. Liqo’ kali ini sungguh special, walau ada beberapa orang yang tidak hadir karena alasan yang insya Allah syar’i liqo’ berjalan dengan penuh tawa.

            Program akan berjalan mulai besok pagi. Untuk jadwal tahsin dan talaqi mulai dari pukul 20.30-22.00 WIB. Peraturan barunya selama satu setengah jam itu HP wajib dinonaktifkan, laptop tidak boleh dihidupkan. Haha… saya melihat beberapa reaksi dari teman-teman, ada yang terkejut ada pula yang biasa-biasa saja. Tapi untuk kebaikan kenapa harus menolak? Itu semua agar kami para santri bisa berkonsentrasi dengan baik.

            Apa yang berbeda pada liqo’ kali ini? Malam ini penuh dengan kejutan. Yang paling seru saat Ustadzah mengumumkan tentang program “mempersaudarakan”. Masih ingatkan ketika Rosulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor? Persaudaraan seperti itulah yang menjadi teladan. Ustadzah membagikan kertas untuk diambil oleh masing-masing santri sehingga santri yang mendapatkan nomor yang sama akan menjadi pasangan saudara. Haha, lucu juga…ruangan penuh dengan gemuruh tawa.

            Program persaudaraan akan berlangsung selama 3 minggu. Dimana selama 3 minggu tersebut wajib mengenal secara detail saudaranya, lalu jika sholat berjama’ah harus berdiri berdampingan, meluangkan waktu makan bersama saudaranya, lalu menyisihkan waktu untuk jalan-jalan bersama, tilawah bareng dan lain sebagainya. Dimana tujuan program ini agar para santri saling mencintai sesama saudaranya. Nice programkan…? Hihihi.

Hadist riwayat Al-Bazaar dengan sanad hasan dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.”

Sekian dulu cerita hari ini. Semoga hari esok lebih baik….
Hikmah hari ini:
Saling mencintailah karena Allah, hidup akan indah. :)


Bogor, Rabu 14 September 2011
Hari yang cerah untuk jiwa yang gundah… ce ileh… hahay :P
Bismillah…

Hari ini hari pertama kuliah setelah libur panjang. Haha, benar-benar libur karena selama di rumah rasanya hampir tak pernah buka file-file kuliah. Padahal ya ni pemirsa (wkwkw… ngerasa jadi artis :P) saya tuh bawa Pe-eR ke rumah. Fufufu… Proposal buat tugas akhir, yang akhirnya terbengkalai begitu saja. Sudahlah… untuk sejenak lupakan dulu masalah itu.

Sebelum subuh ikutan sahur. Niat shaum ganti yang hanya tinggal 2 hari lagi. Tapi masih bimbang karena kemarin temen-temen kaum ibu-ibu di kelas ngajak makan di warung pecel favorit kami, ya sekalian silaturrahim ba’da lebaran. Saya pikir mungkin susana akan jadi lain kalau saya nggak ikutan makan. Ya udah jadinya saya batal untuk shaum. Wkwkwk sedih pemirsa (aneh… sedih kok ketawa).

Pukul sebelas kurang saya udah nunggu di tempat yang sudah disepakati. Mbak Ika dengan mobilnya akan menjemput. Nunggu agak lama bosen juga (siapa suruh datangnya kecepetan…? DL. Apa tuh? Derita Lo… ckckck). Akhirnya pukul sebelas lewat dikit yang ditunggu-tunggu pun datang. Kami melaju ke warung makan yang masakannya mak nyos itu. Xixixi.

Sampai di TKP… kami langsung pesen makanan. Lalu makan sambil cerita-cerita. Alhamdulillah ya pemirsa (menirukan Syahrini… hihihi) nggak ada yang keselek, padahal makannya sambil ketawa ketiwi. Abis makan adzan berkumandang… enaknya makan di sini selain karena makanannya yang top markotop, tempatnya yang nyaman juga dilengkapi dengan fasilitas ibadah. Kita nggak perlu kesulitan untuk mencari tempat sholat. Ada toilet dan tempat wudhu yang bersih, jadi saatnya masuk waktu shalat maka kita bisa dengan nyaman sujud bersama orang-orang yang sujud (sholat jama’ah maksudnya cuy :)).

Baiklah pemirsa, sekian dulu perjalanan kuliner saya, sebenarnya saya mau nulis yang lain, tapi ternyata pemirsa tulisan saya udah cukup panjang, takut juga yang baca ntar bosen. Hehe…

Hikmah hari ini:
Nggak ada Lo nggak rame… hehe :P
*Gk nyambung… fufufu.


Bogor, 12 September 2011
Rumah Al-Qur’an kamar nomor 8 (haha…)
Bismillah…

Malu-Malu, Malang

            Tahu tidak, tadi pagi cuma sahur minum air putih tok… Huft, penyebabnya setelah qiyamullail sengaja tidur eh bablas, nggak taunya baru terbangun beberapa menit sebelum imsak. Masih ingatkan, kisah perjalananku dengan kereta api semalam? Badan sakit-sakit dan bawaannya ingin tidur berkepanjangan. Jadilah hari ini aku mesti menahan lapar lebih berat dari biasanya. Tak apa-apa, masih lebih mending. Di belahan bumi yang lain bahkan ada orang yang nggak makan berhari-hari, bukan karena puasa, tetapi memang tidak ada yang bisa dimakan. Kelaparan. Busung lapar. Jadi Alhamdulillah ya (menirukan Syahrini… hehe) kita masih bisa makan cukup 2 atau 3 kali sehari. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar- Rahman: 13).

            “Mbak Ca… sore ini nggak ada yang piket masak Mbak.” Ujar si kembar.
            “Lho… kok bisa?” tanyaku, sambil mengerutkan kening pertanda heran.
            “Anak-anak pada pergi Mbak, gimana dong? Atau kita aja yang masak Mbak.”
            “Ok.”

            Kami berjalan menuju dapur… Buka pintu kulkas dan melihat isinya. Kira-kira apa yang bisa dimasak. Tapi ternyata bahan makanan sudah habis. Grasak grusuk mencari cari… memang habis, nggak ada apa-apa. Karena cukup banyak yang sedang shaum, salah satu teman pun mengirim SMS pemberitahuan kepada anak-anak RQ yang di luar agar membeli lauk sendiri tuk makan malam. Itu cara tercepat yang bisa dilakukan. Haha … Alhamdulillah ya, nggak ada yang protes.

            “Ta… Mbak titip makanan ya… terserah apa aja.” SMS terkirim.
            “Ok… Mbak, tapi ntar ya, aku lagi rapat nih maklum… hehe.” SMS balasan.
            Bolak balik balas-balasan SMS sama si Ita, akhirnya dia janji mau pulang setelah maghrib sebelum isya. Aku sudah pesan, jangan telat soalnya lapar sekali. Huft.

            Adzan maghrib pun berkumandang, terdengar merdu sekali. Sudah waktunya berbuka. Teman-teman yang lain berkali-kali menawariku untuk ikut makan bersama mereka. Karena makanan yang aku tunggu tak kunjung datang. Aku selalu menolak. Malu… nggak enak, segan masak gangguin orang makan. Padahal barangkali mereka tidak terganggu. Tapi dari dulu aku suka begitu. Hehe… biar aja deh nahan lapar dulu. Ntar juga makanannya datang.

15 menit lagi masuk waktu sholat isya.

            “Ta… kok lama amat sih, udah lapar nih…!” SMS terkirim.
            “Mbak aku masih makan-makan ama anak-anak BEM, ntar ya… tidur aja dulu biar nggak kelaperan. Hihihi .”
            Gubraaaaaaaaaaaaaaaaak =.=”

            Kenapa ini anak nggak bilang dari tadi sih, kan aku bisa titip ama yang lain T.T omelku dalam hati.

            “Masih ada yang belum makan nggak?”
            “Mbak Ica tuh yang belum makan.” Suara si kembar terdengar sampe ke kamarku.
            Kupikir pesananku sudah datang… ternyata tidak.
            “Mbak belum makan ya?” Wahyu bertanya.
            Aku senyum-senyum.
            “Ini Mbak, makan aja. Aku punya dua kotak kok, rezeki tadi gratis. Ambil aja Mbak. Nggak apa-apa.” Ujar Wahyu sambil tersenyum manis.

            Akhirnya dengan agak segan sedikit malu aku ambil nasi kotak pemberian Wahyu dan makan dengan nikmat. Alhamdulillah.

Hikmah hari ini:
Terkadang... malu-malu, malang kawan. Hahaha… ;)


Melukis Suara Hati
Ahad, 11 September 2011
Bismillah…

                Kita main tebak-tebakan yuk :) , Apakah aku… panjang, banyak pintu dan jendelanya… bunyinya tut… tut… tut… hayo apaan? Yup, kereta api. Gampang amat ya tebakannya. Ya udah, nggak apa-apa. Hari ini aku ingin cerita tentang perjalananku dari Bogor ke Jakarta. Tentu saja naik kereta api.

                Kurasa tak semua orang pernah menaiki kereta api, sebagain besar orang sumatera yang nggak pernah kepulau jawa mungkin belum pernah merasakan naik kereta api. Wah, ampun dah… kalau nggak kebagian tempat duduk merana jadinya. Coba saja bayangkan perjalanan sekitar satu setengah jam, harus berdiri. Tidaaak. Yah kalo kamu punya fisik yang kuat sih kagak ape-ape. Kalau aku? Hmm… nanti kuberitau mengapa aku nggak sanggup berdiri lama.

                Naik berdesak-desakan, mungkin karena hari libur jadi penumpang membludak. Aku nggak tau awal mulanya bagaimana, tapi ibu muda yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri cekcok dengan seorang Bapak yang duduk nyaman di kursinya. Aku mengerti sekarang ibu muda itu menyarankan kepada si bapak untuk memberikan tempat duduknya kepada ibu yang menggendong bayinya. Tapi cara ibu muda menyampaikan niat baiknya agaknya sedikit salah. Sedangkan si bapak nggak peka terhadap kondisi yang ada sementara si ibu yang menggendong bayi tak langsung minta tolong tapi menyindir secara tidak langsung si bapak. Perang mulut tak terhindarkan. Sementara beberapa waktu kemudian semua orang yang menonton pertengkaran mulut itu berteriak, “huuuu… turun… turun….”

                Aku tak ingin ikut campur dengan permasalahan mereka. Hanya bisa menonton saja. Lalu seorang ibu berkerudung merah jambu yang berdiri di depanku berkata pada anaknya yang mungkin berusia 9 tahun.

                “Tuh Nak, lihat… nanti kalau abang udah gede jangan begitu ya…! Kalau ada ibu-ibu membawa balita, lansia, atau yang  lebih membutuhkan tempat duduk dikasih ya Nak… kasihankan.” Ujar sang ibu sambil menatap anaknya penuh cinta. Sementara sang anak mengangguk tanda mengerti lalu tersenyum pada ibunya dan memeluk ibunya erat. Sedangkan aku hanya bias bergumam dalam hati. “Subhanallah ibu ini. “ Kulihat anaknya anak yang baik… sebab sang ibu selalu memberikan teladan dan pengertian. Ibu yang patut dicontoh.

                Perjalanan kali ini benar-benar menguras energi. Bolak balik mengitari toko-toko elektronik. Dari perjalanan di kereta rasanya kakiku udah mau lepas, belum lagi perjalanan pulang. Berharap dapat kursi untuk duduk. Yup… dengan sedikit usaha berjalan lebih cepat dari gerbong ke gerbong kami pun dapat tempat untuk melepas lelah. Kali ini aku harus egois, sakit menahan nyeri di kedua kakiku yang kedua-duanya pernah mengalami patah tulang. Kurasa aku harus tidur. Kupejamkan mataku, berharap hari ini aku tak harus mengalah tempat duduk dengan orang lain. Entah berapa lama aku tertidur. Saat aku buka mataku kulihat temanku sudah berdiri. Rupanya dia memberikan kursinya untuk ibu-ibu yang tadinya mungkin berdiri di depannya. Kusapu pandanganku ke arah sekitar, Alhamdulillah tak ada yang lebih membutuhkan kursi lagi. Mereka semua masih muda dan sehat bugar. Kembali kupejamkan mataku. Entah berapa lama aku tertidur. Untuk kedua kalinya saat kubuka mataku. Pertama kali yang terlihat adalah seorang nenek yang berdiri tepat di depanku. Sorot matanya itu berbicara. Aku mengerti maksudnya, mungkin kira-kira begini, “Mau kah Nak berbagi tempat duduk?”
                Ah, aku tak setega si Bapak yang tadi, bahkan nenek itu tampak lebih tua dari nenekku di kampung. Dengan cepat aku berkata, “Mau duduk Buk? Silahkan.” Senyumku mengembang, walau agak terpaksa. Dengan sigap sang nenek menggantikan posisiku di kursi itu. Wah, aku saja tak sanggup berdiri. Bayangkan, kakiku tak dapat lagi digerakkan sangking padatnya penumpang. Aku harus bertumpu pada pegangan, yang membuat tangganku pegal nggak karuan. Nyeri di kakiku bertambah-tambah… ah, harus bertahan.

Hikmah hari ini:
Kalau nak selamat banyak-banyak sabar… Hehehe….