twitter

Tampilkan postingan dengan label Ugahari Nurul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ugahari Nurul. Tampilkan semua postingan

Bicara Tentang Cinta

Parungpanjang, 12 september 2011

Bicara tentang cinta ga akan ada habisnya. Karena cinta itu luas maknanya. Tapi, kali ini saya mau bicara tentang cinta antara laki-laki dan perempuan. Ehm...malu juga sih ngomongnya, heheheh.
Banyak orang kalau sudah jatuh cinta akan menjadi kalap. Ibaratnya, gunung pun ku daki lautan ku sebrangi. Cinta butuh pengorbanan, katanya. Namun, banyak orang yang menyalah artikan "pengorbanan" tersebut sehingga sering terlihat konyol dan bodoh. Untuk mendapatkan cinta yang kita inginkan memang perlu pengorbanan, tapi bukan berarti segalanya di korbankan. Apalagi cita-cita dan impian. Terlalu mahal deh rasanya cuma karena cinta sampai dua hal itu tergadaikan. Cinta yang baik justru akan mendukung langkah kita untuk mencapai impian bukannya menjadi penghalang serta pemberat. Hal itu yang sering kita lupakan.
Saya bicara ini ketika saya membaca sebuah status dari teman facebook yang I adore him. Dia tuh buat saya beda dari yg lain. emang sih ketemu langsung belum cuma saya dan dia akhir2 ini lagi intens bermesej on facebook dan twitteran. dari semua hal yg kita bicarakan, saya bisa lihat kalau dia itu sosok yang megang mimpi dan cita2nya. dan itu membuat saya want to know bout him, more and more....




Parungpanjang, 8 September 2011

Ini adalah hari ke enam pasca aku terjatuh sehingga kakiku keseleo dan bengkak. Punya kaki yang cidera itu sama sekali gak enak. Kemana-mana susah. Ditambah lagi kaki kanan yang mengalami cidera. Padahal, untuk melakukan pijakan dan tumpuan adalah fungsi dari kaki kanan. Hari pertama kaki menjadi bengkak, aku sama sekali tak bisa menggunakan kaki kananku untuk menapak. Terpaksa, jalan pun aku harus melompat dengan satu kaki. Jika sudah merasa kesulitan, aku meminta bantuan Adik untk menopang dan membantuku jalan. Saat mandi yang biasanya adalah kegiatan favoritku, berubah seperti menjadi bencana. Aku tidak bisa berdiri tegak diatas kedua kakiku! Melepas dan mengenakan celana kembali saja susah. Ditambah, aku kesulitan untuk sekedar berjongkok. Bahkan, aku harus membawa bangku untuk membantu rutinitasku di kamar mandi. Aku kesal sekali!

Rasa kesalku berubah menjadi frustasi ketika aku kesulitan untuk duduk diantara dua sujud dalam sholatku. Sakit dan sulit sekali untuk menekuk kaki kananku. Maka, di rakaat pertama sholat zuhur dengan penuh marah ku buka mukena dan ku campakkan ia begitu saja. Aku marah!
Dalam amarahku, air mataku mulai bercucuran. Di kamar nenek, aku mulai menangis sambil menutup wajahku dengan bantal. Aku kesal, marah, kesakitan! Di luar sana sepupu-sepupuku yang masih kecil berlarian dengan riang. Ah...makin iri saja aku ini!

Namun dalam tangisku, aku kembali mengenang sesosok nenek yang ku lihat saat aku sholat Isya di masjid. Nenek itu terlihat normal, keriput, tua dan punya aroma khas seperti lazimnya seorang nenek. Mataku mulai tertarik memperhatikannya ketika ia menarik sebuah bangku kayu kecil untuk duduk saat berzikir. Ah, ada apa dengan nenek itu pikirku? Sesampainya di rumah, aku mencari Bulik dan bertanya tentang nenek itu. "Dia luka punggungnya karena terjatuh. Sudah operasi berjuta-juta namun hasilnya tetap saja begitu, tidak membaik. Maka, nenek itu pun selalu membawa bangku setiap sholat.

Ah, rasanya aku malu sekali terhadap nenek itu karena sudah berlaku cengeng. Usiaku masih sangat muda namun aku terlalu cengen hanya karena kaki kananku bengkak. Sama sekali tak sebanding dengan beliau yang renta namun masih berusaha untuk menunaikan kewajibannya.

Belum selesai rasa malu di hati dan pikiranku hilang, Nenekku kedatangan tamu. Bukan tamu biasa karena awalnya, ku anggap tamu itu pengemis. Pakaiannya yang kumal, matanya yang tak normal, cara jalannya yang diseret dengan tangan menekuk ke depan. Nenekku menyambutnya hangat sementara aku terdiam di tempat dudukku. Ya Allah, ternyata masih ada dan banyak yang jauh lebih menderita dari aku...

Dari cidera kaki ini aku banyak belajar. Bahwa kesehatan dan kesatuan tubuh sangatlah penting. Namun lebih penting lagi adalah tidak menggunakan kecacatatan tubuh itu sebagai alasan demi tak melakukan apapun. Kini aku telah belajar, bahwa meski saat ini aku tengah cidera tetapi aku tak boleh cengeng dan tetap bersyukur. :)