twitter


Hari ini serasa sangat merdeka, semua pekerjaanku sudah kurampungkan sejak subuh tadi. Tinggal beberapa namun tidak mendesak. Aku bingung harus susah atau senang. Aku senang karena aku bisa istirahat. Namun aku juga susah karena pendapatanku berkurang (heheheh ketahuan materialistis). Ah tapi lupakan, fikiran ini harus diistirahatkan agar tidak stresssssss....

Hari ini aku mulai memikirkan pekerjaan onlineku yang terbengkelai, ya skripsi, ya cerpen, proyek bukum dan juga beberapa order desain. Ada lebih dari 6 (enam) skripsi yang harus tertunda.. untung tidak diburu-buru

Siang ini banyak waktu luang, aku matikan komputer, kebetulan salah satu temanku (Fery) datang ke rumah disusul Enjer, Moko, Kibri dan Patlas. (hmmmmm mereka merupakan beberapa teman terbaikku) Mereka tahu aja aku baru nyantai. Sambil dengar musik aku sempatkan untuk membaca buku "LUKISAN KEABADIAN" karya Kahlil Gibran. Lumayan dapat sedikit ilmu tentang puisi.

Agak sore aku diajak tennis meja ke SMPN 1 Pracimantoro (dekat rumah) sudah lama sekali aku tidak ke sekolah tempat sekolahku waktu SMP dulu ternyata sudah sangat berubah. Jadi lebih bagus. Namun ada beberapa yang masih tetap dan tidak bisa dilupakan.... (heheheh gubrakkk)

"hey ayo main..!!"
"Oke oke oke"

aku bengong ngeliat memory itu, akhirnya kaget dikejutkan teman2ku... yuk main tennis meja sampai mangrib tiba.

****
HARI SANGAT senang, karena jarang sekali aku ngumpul sama teman-teman selama ini. mudah-mudahan tidak merubah dan merenggangkan persahabatan hanya gara-gara jarang ketemu. Aku berharap semua ini akan terlukis abadi seperti kata Kahlil Gibran heheheheh



[Bukan Buku Harian Biasa] – Yulina Trihaningsih
Tangerang. Ahad, 4 Desember 2011 – Cerita Kehidupan
 
Sudah lama nggak posting BBHB. Hari ini, aku ingin sekali menulis kisah nyata tentang istimewanya kekuatan doa dan salat Dhuha dalam kehidupan sebuah keluarga yang aku kenal ^_^. Aku tuliskan sebagai catatan kecil pengingat diri ini ....
===========================================================
 
                Pak Anto dan Bu Ina adalah sepasang suami istri yang sedang berhajat ingin menjual rumah mereka. Alasan pertama, karena Pak Anto mendapat promosi untuk merintis satu cabang pabrik baru di lain propinsi. Alasan kedua, anak-anak mereka sudah tumbuh semakin besar, dan rumah mungil yang mereka tempati saat ini, terasa begitu sesak hingga tidak menyisakan tempat untuk bernapas. Akhirnya, bulatlah keputusan Pak Anto dan Bu Ina untuk menjual rumah mereka.
 
Tapi, urusan menjual rumah, tentulah tidak seperti menjual kacang rebus. Kota tempat tinggal mereka saat ini, adalah kota penyangga ibu kota negara. Mereka berharap sekali mendapatkan harga yang tinggi untuk rumah mungil mereka, agar dapat membeli rumah baru yang lebih besar dan luas di kota tetangga.
 
Hingga suatu pagi, keduanya menonton sebuah acara TV yang dipandu oleh seorang ustad muda. Ustad tersebut bercerita tentang kehidupannya di masa lalu yang terlilit banyak hutang, dan kemudian memutuskan menyerahkan segala urusannya itu kepada Allah saja. Dia lakukan salat Dhuha setiap hari, dan memutuskan untuk menginfakkan 100% royalti penjualan bukunya di saat sulit itu. Dan, subhanallah, betapa Allah kemudian menunjukkan kuasa-Nya, dengan memberikan ganti yang berlipat-lipat, dan menghapus semua hutangnya.
 
Pak Anto dan Bu Ina tercenung. Mereka merasakan juga betapa beratnya hidup mereka saat ini, karena mempunyai hutang kepada manusia (baca: bank). Apalagi, mereka juga mempunyai hajat untuk menjual rumah mungil mereka secepatnya.
 
Maka, Pak Anto dan Bu Ina pun mulai memperbaiki lagi salat Dhuha mereka. Yang tadinya hanya dua rakaat, sekali-kali saja. Sekarang menjadi enam rakaat, minimal, setiap harinya. Bu Ina berdoa sungguh-sungguh di setiap salatnya, hingga tidak terasa air matanya mengalir.
 
“Janganlah Engkau tahan rezeki kami, Ya Allah ....  Ampuni dosa-dosa kami, hapuslah hutang-hutang kami, dan mudahkanlah setiap hajat kami di dunia ini.”
 
Salat Dhuha mulai mereka langgengkan. Hingga kemudian, mereka mulai memikirkan apa yang bisa mereka infakkan 100% di saat ini. Untuk mengorek uang belanja, rasanya sulit dan tidak seberapa. Tiba-tiba Bu Ina ingat uang tabungannya di arisan RT yang masih berjalan. Rencananya kalau dapat, uang itu untuk membayar uang buku sekolah kedua anaknya yang sudah ditagih pihak sekolah, dan juga untuk menambal kebutuhan mereka sehari-hari.
 
“Yah, bagaimana kalau nanti dapat uang arisan, kita infakkan 100%?” usul Bu Ina. Pak Anto memandang istrinya, tersenyum.
 
“Wah, boleh, Bu. Berapa sekali dapat?”
 
“Dua juta kurang 50 ribu. Tapi, baru dua kali kocokan. Yang ikut 27 orang. Sekali kocok, yang dapat dua orang,” jelas Bu Ina, merasa tidak yakin.
 
“Yah, kita berdoa saja. Siapa tahu jodoh.” Pak Anto menyemangati istrinya.
 
Ketika awal bulan tiba, dan arisan akan dimulai, Bu Ina sempat merasa ragu. Ia merasa, seperti sedang menguji keyakinannya terhadap janji Allah. Merasa tidak yakin juga, pantaskah dirinya mendapatkan janji tersebut. Namun, dia pasrahkan saja semuanya kepada yang menggenggam jiwanya.
 
Ketika kocokan dikeluarkan, keluarlah dua gulungan kertas dari dalam gelas. Bu Budi, ketua arisan, meminta Bu Ina dan Bu Evi untuk membuka gulungan kertas itu.
 
“Bu Budi!” seru Bu Evi membaca nama yang ada di dalam gulungan kertas di tangannya. Ibu-ibu mulai ramai menggoda Bu Budi yang mendapat arisan. Gemetar tangan Bu Ina membuka gulungan kertasnya.
 
“Bu Rini ...” seru Bu Ina pelan.
 
“Wah, Bu Rini nggak hadir ini, bagaimana?” tanya Bu Budi.
 
“Tapi, kalau dia sudah bayar sih, kasih aja, Bu. Kasihan ...” Bu Ratna bersuara.
 
“Hm ..., begitu, ya? Tapi, bulan lalu namanya juga keluar, dan dia menolak dapat di awal. Coba saya tanyakan dulu, ya ...” inisiatif Bu Budi.
 
Sementara itu, pelan-pelan Bu Ina mencoba berkompromi dengan perasaannya. Ada sedikit rasa kecewa di sana. Dia tersenyum, mencoba melapangkan hatinya.
 
“Ibu-ibu ...,  Bu Rini minta namanya dimasukkan lagi. Jadi, kita kocok satu lagi ya, Bu ...” Bu Budi melaporkan setelah menelpon Bu Rini.
 
Ibu-ibu tertawa dan mulai kembali berharap. Satu gulungan kertas keluar lagi dari gelas kocokan. Bu Budi kembali menyerahkan gulungan itu kepada Bu Ina.
 
Perlahan Bu Ina membuka gulungan itu dan membaca nama di sana. Sebelum berbicara, dihadapkannya kertas itu ke arah ibu-ibu agar semua dapat melihat dan ikut membacanya.
 
“Wah ..., Bu Ina ...!” seru ibu-ibu sambil tertawa. Sementara Bu Ina hanya bisa tersenyum sambil berusaha meredakan gemuruh yang ada di dadanya. Rasanya ingin menangis. Menyadari, dia sempat meragukan janji Tuhannya. Entah bagaimana dia bisa menjelaskan semua peristiwa yang baru saja dia alami. Tapi, yang pasti, sejak saat itu dia bertekad untuk tidak meninggalkan salat Dhuha, dan tidak akan pernah lagi meragukan janji sang penguasa langit dan bumi.
 
*Dan cerita ini masih berlanjut ... ^_^


BBHB_RIRI MARETTA (RI RAMAYA)
 
Dari Awal Memang Dia
Hy sobat WR semuanya, dah lama nih aku ga gabung di WR. Ada BBHB, aku belum pernah curhat di sini. Bingung sih mau curhatin apa. Aku kalau nulis sukanya tentang cinta, hehehe. Oke deh, kisah kali ini tentang cinta dan WR.
Sebelumnya aku ga pernah nyangka. Fajar (sebut saja namanya itu), laki-laki di masa lalu yang kini hadir mengisi hari-hariku. Setiap kali selesai salat, aku selalu ingat dia. Dia yang beberapa waktu yang lalu menjadi imamku dalam salat berjamaah. Kucoba mengingat kembali kenangan-kenangan dulu dengan laki-laki yang sempat mengisi hatiku. Sepertinya tidak satupun dari mereka yang pernah menjadi imamku ketika salat.
Apakah itu yang pertama kalinya dia menjadi imamku? Ternyata tidak. Waktu zaman sekolah dulu, dia pun sering menjadi iman dalam salat berjamaah di sekolah. Dalam do’a aku berharap, semoga memang dia yang akan menjadi imamku kelak dalam keluargaku.
Waktu begitu cepat berlalu, sebelumnya dia bukan siapa-siapa di hatiku. Dia hanyalah masa lalu yang dulu mendambakanku, dan aku pun mungkin sepertinya begitu. Bahkan dia adalah rivalku di sekolah dulu. Banyak orang yang menginginkan kami seperti King and Queen. Tapi, kami malah seperti anjing dan kucing yang setiap hari bertengkar. Jarak dan waktu memisahkan kami sepuluh tahun lamanya, kami tumbuh dengan kedewasaan. Facebook mempertemukan kami dua tahun yang lalu, ketika saat itu aku baru saja memulai suatu hubungan serius dengan seorang laki-laki yang aku sebut tunanganku.
Indra (tunanganku) tidak suka aku aktif di dunia tulis-menulis. Hingga akhirnya, aku menyembunyikan keberadaanku di WR. Setiap kali membuat notes di Facebook, selalu kusembunyikan darinya. Long distance relationship kami akhirnya putus di tengah jalan akibat keterkekangan yang kurasa.
Cerita seputar dunia tulis menulis semua kuceritakan kepada Fajar. Bahkan, berkat dia aku bisa ada di SMCO angkatan 2. Waktu itu 31 Januari 2011, hari terakhir mendaftaran SMCO WR.
Obrolan jarak jauh antara aku dan Fajar :
Aku        : Fajar, lo lagi sibuk ga? Bisa bantu gw? Pokoknya sibuk ga sibuk lo harus bantu gw! ^_^
Fajar      : Apa tuh?
Aku        : Punya ATM Mandiri ga?
Fajar      : Punya.
Aku        : ATM gw lagi kosong nih, maklum lah anak kost akhir bulan. Bisa ga lo transferin duit Rp. 50.000,- ke Rek ini 12345xxxxx? Sekarang?!
Fajar      : Nyusahin aja! Buat apa sih?
Aku        : Gini, gw kan mo daftar Sekolah Menulis Cerpen Online gitu, hari ini terakhir pendaftarannya. Kalau ga sekarang kapan lagi coba? (Dulunya ga tau bakal ada angkatan 3,4 dst). Lo kan cakep... ^_^
Fajar      : Tunggu aja.
Aku        : Kalau udah, bukti tranfernya lo scan yah, terus lo kirim ke e-mail gw!
Fajar      : Hah?? Iya-iya!
Malam harinya :
Fajar      : Cek e-mail tuh!
Aku        Yup!
Beberapa saat kemudian :
Aku        : Mana?? Apaan?? Hitam, gelap!
Fajar      : Apanya?
Aku        : Mana gambarnya? Hitam aja filenya. Kirim lagi, scan yang bener dong!
Fajar      : Arrrggghhh!
Beberapa saat kemudian :
Fajar      : Cek lagi tuh!
Aku        : Sip! Makasih ya sayang... Ntar aku balikin duitnya. ^_^
Fajar      : Wkwkwkwkw...
Aku        : Ih! Dipanggil sayang, bahagianya!
Di saat mau ngirim e-mail pendaftaran ke PP Joni Lis, malah internetku yang ngadat. Hadew...! Cobaan apa lagi nih? Padahal dah mau tengah malam. Saking takutnya ga bisa gabung di SMCO WR, aku smsin aja yang punya WR_nya.  Jadilah aku murid SMCO angkatan 2. Hehehe... ^_^
Bagi Fajar, ungkapan cintanya yang pertama kali kepada seorang perempuan adalah kepadaku waktu kelas 3 SMP. Bagiku, Fajar adalah adalah laki-laki yang kesekian yang pernah ada di hatiku. Kini, aku ingin dia menjadi yang terahir di hatiku. My rival is now my lovely...
 
Raflessia City, November 25 2011-11-25
Ba’da Ashar
For My Lovely at Minang Kabau Village