twitter


Hari Jumat. Saat yang tepat untung memotong kuku. Namun rutinitas ini justru membuka kembali memori yang kusimpan sejak dua bulan lalu, saat aku harus kehilangan salah satu kuku kakiku.
Kala itu, karena terburu, jari kakiku kejedot pintu. Tidak sakit. Tapi sakiiiiiiit banget! Rupanya sang pintu mengerahkan segala tenaganya untuk menjepit kakiku walaupun hanya sepersekian detik. Benar saja, kulit di bawah kuku kakiku membiru.
Ya sudahlah, cuma hematom -perdarahan di bawah kulit- saja, batinku saat itu. Aku segera melanjutkan aktivitasku, melaju menuju Puskesmas Kertek II di kaki Gunung Sindoro.
Keesokan harinya, bertepatan dengan hari Ahad, teman-teman mengajakku ke Telaga Menjer, sebuah telaga nan eksotik bertaburkan pohon cemara di tepiannya, juga berlatar puncak Gunung Sindoro. Sesaat sebelum berangkat, teman sekamarku menyarankanku untuk memplester si jari biru. Biar nggak kejedot lagi, katanya. Tapi aku menolaknya seraya berkata bahwa diplester pun kalau kejedot lagi juga tetap sakit.
Dan.. "Aaaaaaaaarrrrghhhh", teriakku tatkala si jari biru benar-benar kejedot batu di tepian Telaga Menjer. Si jari biru pun semakin membiru. Setibanya di rumah, langsung kuoles dengan krim yang -seharusnya- mampu meluruhkan bekuan keping darah di bawah kulit jariku. Tapi rupanya si krim tidak mau membantuku. Suatu kali saat aku memotong kuku, kuku si jari biru terpotong terlalu pendek. Satu hal kusyukuri, tidak ada darah, hanya plasma yang membajir membuncah..
Beberapa hari kemudian, kuamati lagi si kuku yang tinggal sepertiga itu. Ternyata dia sudah berpisah dengan kulit tempatnya beradu, menganga membentuk rongga. Aku histeris. Teman-teman beramai-ramai menawarkan diri untuk mencabut kukuku.
"Sakit nggak? Keluar darahnya nggak?" tanyaku pilu. 
"Keluar darahnya sih, tapi sedikit kok. Kayanya sih sakit kalau biusnya habis," ujar temanku. Uuughh. Rasa ngilu menohokku. Memang praktik tak semudah bicara. Bila  selama ini aku sering menasihati pasien yang harus mengalami pembedahan kecil ataupun operasi untuk tidak perlu takut, bila hingga kini aku telah berkali-kali melihat operasi yang berdarah-darah, kini aku merasakan sendiri nyaliku menciut menghadapi pembedahan paling ringan : ekstraksi kuku, alias pencabutan kuku. Meskipun aku tahu sebelum kukuku dicabut akan dibius lokal dulu, tapi aku juga tahu betul bahwa penyuntikan di jari itu salah satu yang paling menyakitkan dibandingkan penyuntik an di tempat lain. Akhirnya dengan segenap keberanian dan kenekatan yang susah payah kukumpulkan, aku bertekad mencabutkan kukuku. Tibalah hari eksekusi. Dokter senior di Puskesmasku menyiapkan peralatan bedah minor. Aku memilih berbaring, tak tega melihat jarum suntik menembus kulit jariku. Aaaaaaaarrrgggh, memang benar-benar sakit! Dan aku harus menerima tiga suntikan di tempat berbeda demi menumpulkan rasa nyeriku. Hingga akhirnya aku memberanikan diri duduk dan melihat proses ekstraksi kuku yang rupanya sangat singkat. Sepertinya kukuku memang sudah mati sampai tak ada setitik darah  ;pun keluar. Alhamdulillaah,, aku bisa bernafas lega ^^


12 Oktober 2011
11.50 AM

Hari ini aku jalani hidupku dalam naungan rindu yang menggebu- gebu. Rindu pada keluarga, teman, dan tentunya rindu kepada orang yang hatinya telah kucuri beberapa waktu yang lalu. Tapi walau kini kujalani hubungan dengan orang yang telah aku cintai hanya lewat long distance, aku tak boleh berkecil hati. Toh, dari sinilah aku dan dia harus bisa bisa belajar lebih baik tentang kejujuran, kepercayaan serta saling pengertian.

Hanya doa yang kukalungkan untukmu
Lewat Tuhanku kutitipkan salam manisku
Berharap kelak agar aku juga dirimu
Berjumpa menggapai janji suci untuk menyatu

*Spesial to my love


1Pengalaman Pertamaku

2 Oktober 2011 kuberencana mengikuti seminar Prophetic Parenting di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Sebelum berangkat ada telepon dari saudara yang ada di Bondowoso bahwa Bapak dari suami kakakku meninggal dunia. Suasana kalut tak terperi. Ingin rasa hati untuk membatalkan rencana ikut seminar di UMS. Tapi, tidak enak rasanya karena sudah ada janji sama teman kalau mau kesana. Kakak dan suaminya segera bersiap-siap untuk kesana. Aku dan adikku yang masih kelas satu SD tinggal di rumah. Kuhanya mampu untuk mengirimkan sebait doa untuk beliau, semoga beliau tenang di alam sana.
***
            Aku memutuskan berangkat ke seminar Propethic Parenting walau sudah terlambat. Janji adalah sebuah hutang, yang harus aku tepati. Kuberfikir lebih baik terlambat dari pada tidak hadir. Setelah selesai acara, aku putuskan untuk mengajak temanku untuk mampir ke book fair di Hypermart Assalam. Kubaca-baca schedule book fair, ternyata ada lomba puisi untuk dewasa. Hatiku tergerak untuk mengikuti lomba tersebut. Aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Aku sadar diri seandainya aku jadi ikut lomba tersebut, itu adalah sebuah pengalaman baru. Aku harus berani, fikirku. Sebuah pengalaman adalah guru terbaik yang akan mengajarkan arti hidup yang sebenarnya. Aku mengajak temanku untuk mendaftarkan diri. Ternyata dia tidak mau. Aku beranikan diriku, untuk mendaftar sendiri
            Kubuka grup writing revolution puisi dan kumulai bertanya kepada kak Yoan si Pendekar Kata mengenai apa saja yang dinilai dari pembacaan puisi. Panjang lebar kak Yoan menjelaskan padaku. Dia berusaha meyakinkan aku, bahwa aku pasti bisa.
***
            3 Oktober 2011 tepat dimana lomba puisi dewasa akan diselenggarakan. Aku meyakinkan diriku untuk terus maju. Aku berusaha menasehati diriku.
“Sudah cukup, selama ini aku hanya jadi penonton yang hanya bisa berkomentar.”
Kulihat nomor undianku, tertulis 39.
            “Ya, sebentar lagi nomorku akan dipanggil. Aku harus yakin, aku bisa tampil di depan.”
            Aku menghela nafas. Ini adalah pengalaman pertamaku. Apapun yang terjadi aku harus siap menghadapi. Kubaru sadar, oh, seperti ini rasanya maju di depan dilihat orang banyak. Sebuah pengalaman pertama yang membuatku tersadar, memang mudah jadi penonton dan memang gak mudah jadi orang yang ditonton. Kuberusaha untuk tampil semaksimal yang kumampu.
            “Bismillah…”
            Setelah turun dari panggung, lega rasanya hatiku. Kubenar-benar baru merasakan bagaimana rasanya harus tampil di depan umum. Salah tingkah dan mati gaya. Luar biasa pengalaman ini.
            “Bagaimana penampilanku tadi, Dik?”
            “Bagus Mbak, walaupun ini penampilan Mbak yang pertama. Kelihatan enjoy. Tapi, maaf ya Mbak. Mbak tadi jedanya terlalu cepat.”
            Aku mengulum senyum. Biasanya aku yang berkomentar. Sekarang tiba saatnya aku yang harus dikomentari.
            “Terima kasih atas masukannya, Dik.”
            Pengalaman pertama sejuta rasanya. Penuh makna. Ada kepuasan tersendiri, setelah bisa menaklukkan virus yang yang namanya demam panggung.
***